Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama (Spiritual power) dengan kekuasaan politik (temporal power)


Kebijakan Bani Umayyah di dalam dan luar Syria

Dinasti Bani Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun, Ibu kota Negara dipindahkan oleh Muawiayah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Walaupun dengan menggunakan berbagai cara dan strategi yang kurang baik yaitu dengan cara kekerasan, diplomasi dan tipu daya serta tidak dengan pemilihan yang demokrasi Muawiyah tetap dianggap sebagai pendiri Dinasti Umayyah yang telah banyak melakukan kebijakan-kebijakan yang baru dalam bidang politik, pendidikan, pemerintahan dan lain sebagainya.

Berikut beberapa kebijakan yang pada masa Daulah ini berkuasa:

1. Memindahkan ibu kota dari Madinah ke Damaskus (syria)
Telah dibahas sekilas di atas bahwa Muawiyah memindahkan ibu kotanya setelah ia menjabat sebagai khalifah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang timbul daari reaksi pemebentukan kekuasaan, khususnya dari kelompok yang tidak menyukainya.
2. Pemisahan kekuasaan
Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama (Spiritual power) dengan kekuasaan politik (temporal power). Muawiyah bukanlah seorang yang ahli dalam soal-soal keagamaan, maka masalah keagamaan diserahkan kepada para ulama.
3. Merubah Sistem Pemerintahan Menjadi Monarki Absolut
Pada awal kepemimpinan Muawiyah masih menerapkan kekuasaan secara dekomokratis, tetapi setelah berjalannya waktu Muawiyah mengubah model pemerintahan menjadi monarki atau turun temurun. Hal ini mendapat pengaruh oleh sistem monarki dari Persia dan Bizantium. Dengan adanya perubahan tersebut menunjukkan bahwa Muawiyah telah memulai mengubah pemerintahan dari demokratis menjadi dinastian, yang segala bentuk kekuasaan mutlak ada di tangannya.
Tidak ada lagi suksesi kepemimpinan berdasar musyawarah dalam menentukan seorang pemimpin baru. Muawiyah telah mengubah model kekuasaan menjadi model putra mahkota. Sehingga tidak ada ruang dan kesempatan bagi orang di luar keturunan Muawiyah unutk memimpin pemerintah umat Islam.
4. Penataan Administrasi
Pada saat menjabat sebagai khalifah salah satu strategi yang dilakukan Muawiyah adalah meningkatkan pengelolaan administrasi negara yang kemudian disempurnakan oleh khalifah-khalifah selanjutnya. Berikut ini beberapa diwan yang dibentuk:
a. Diwan al Rasul yaitu semacam sekretaris jenderal yang berfungsi untuk mengurus surat surat negara yang ditujukan kepada para gubernur atau menerima surat-surat mereka;
b. Diwan al Kharraj yang berfungsi mengurus pajak
c. Diwan al Barid yang berfungsi sebagai penyampai berita-berita rahasia daerah kepada pemerintah pusat
d. Diwan al Khatam yang berfungsi untuk mencatat atau menyalin peraturan yyang dikeluarkan khalifah
e. Diwan Musghilat yang berfungsi untuk menangani berbagai kepentingan umum.

Baca jgua: