Masa Hadhanah


Masa Hadhanah

Masa berlakunya hadhanah akan berakhir apabila si anak kecil sudah tidak lagi memerlukan pelayanan, telah dewasa, dan dapat berdiri sendiri, serta telah mampu untuk mengurus kebutuhan pokoknya sendiri, seperti: makan, berpakaian, mandi, dll. Dalam hal ini tidak ada betasan tertentu tentang waktu habisnya. Hanya saja ukuran yang dipakai adalah tamyiz dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Jika si anak kecil itu dapat membedakan sesuatu yang baik dan tidak baik, tidak membutuhkan pelayanan lagi, dan dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri maka hadhanahnya telah habis.[16]

Tidak dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang menerangkan dengan tegas tentang masa hadhanah. Namun, hanya terdapat isyarat-isyarat yang menerangkan ayat tersebut. Karena itu, para ulama berijtihad masing-masing dalam menetapkan dengan berpedoman kepada isyarat itu. Seperti menurut madzab Hanafi, misalnya, hadhanah anak laki-laki berakhir saat anak itu tidak lagi memerlukan penjagaan dan telah dapat mengurus keperluannya sehari-hari. Sedangkan masa hadhanah wanita berahkir apabila ia telah balig, atau telah datang masa haid pertamanya.

Pengikut madzab Hanafi generasi akhir yang menetapkan bahwa masa hadhanah berakhir ketika umur 19 tahun bagi laki-lak, dan umur 11 tahun bagi wanita.

Madzab Syafi’i berpendapat bahwa masa hadhanah itu berakhir setelah anak sudah mumayyiz, yakni berumur antara 5 dan 6 tahun, dengan dasar hadist:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :خَيَّرَ غُلاَمًا بَيْنَ أَبِيْهِ وَأُمَّهِ كَمَا خَيَّرَ بِنْتًا بيْنَ أَبِيْهَا وَأُمِّهَا.

”Rasulullah Saw. bersabda: “Anak ditetapkan antara bapak dan ibunya sebagaimana anak (anak yang belum mumayyiz) perempuan ditetapkan antara bapak dan ibunya.”[17]

Adapun lamanya masa mengasuh, ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh beberapa Imam madzab:

  1. Imam Syafi’i dan Ishak mengatakan bahwa lama masa mengasuh adalah sampai 7 atau 8 tahun
  2. Ulama’-ulama’ Hanafiah, dan Ats-Tsauri mengatakan bahwa ibu lebih berhak mengasuh anak laki-laki sampai ia pandai makan sendiri, dan berpakaian sendiri, sedang anak perempuan sampai ia haid. Sesudah itu baru bapaknya yang berhak dengan keduanya (anak perempuan ataupun laki-laki)
  3. Imam Malik mengatakan bahwa ibu berkah mengasuh anak perempuan sampai ia menikah. Sedangkan bapak berhak mengasuh anak laki-laki sampai ia baligh.[18]

 

Sumber :

https://solopellico3p.com/samsung-siapkan-pengisi-daya-nirkabel/