Pandangan Mu’ammar bin Ubbad dan Sebagian Ilmuwan Kristen.


Pandangan Mu’ammar bin Ubbad dan Sebagian Ilmuwan Kristen.

Al-Quran adalah sesuatu yang aksidental, dan mustahil Allah menciptakan dan menurunkan al-Quran. Karena menurut mereka, mustahil sesuatu yang aksidental itu terlahir dari perbuatan Allah. Mereka mengatakan bahwa al-Quran adalah terwujud dari suatu tempat yang memancarkan kalam itu.

Dalam catatan Rawandi dan Khayaat tertulis: “Mu’ammar meyakini bahwa al-Quran bukan hasil perbuatan Allah, dan bukan sifat Tuhan, akan tetapi suatu kejadian yang hadir secara alamiah dan natural.

Pandangan tersebut juga diyakini oleh sebagian ilmuwan kristen sebagaimana dikutip, “Dalam naskah tercatat bahwa wahyu asli adalah Masehi itu sendiri, kalimat Allah dalam bentuk manusia, kitab suci hanyalah kitab tulisan tangan manusia yang menjadi saksi atas hakikat wahyu tersebut. Perbuatan Allah dalam eksistensi masehi dan kitab suci hadir dengan perantaraan masehi, dan kitab suci itu tidak hadir dengan cara pendiktean langsung dari Allah.”

Kesimpulan dari kajian di atas adalah al-Quran dan seluruh kitab suci samawi bukan ciptaan Tuhan, akan tetapi hasil perbuatan para nabi dimana Allah menciptakan wujud mereka dalam kondisi yang istimewa sedemikian sehingga mampu menyampaikan tujuan, iradah, maksud dan penjelasan Allah Swt

Kesimpulan

Menurut Al-Kindi bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah. Berbeda dengan pendapat Al-Farabi bahwa alam semesta diciptakan bukan dari tiada, melainkan dari sesuatu yang ada. Sedangkan Al-Razi mengatakan bahwa dua yang hidup dan aktif yaitu Allah dan roh. Satu diantaranya tidak hidup dan pasif, yakni materi. Dan yang tidak hidup, tidak aktif, dan tidak pula pasif, yakni ruang dan masa. Pendapat Al-Gazali bahwa alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan, dan Menurut Ibn Rusyd, sungguh pun alam ini diciptakan karena “sebab” yang lain, namun boleh bersifat qadim, yaitu tidak mempunyai permulaan dalam wujudnya.

Pengikut Ahmad bin Hanbal dan Kaum Asy’ariah memandang bahwa kalam Ilahi itu qadim berasal dari suara dan huruf yang ada dalam zat Allah Swt dan menyatu dengan zat Allah. Sedangkan Aliran Karamiyah dan Imamiah serta Muktazilah meyakini bahwa kalam Ilahi terdiri dari suara dan huruf-huruf, dan kalam Ilahi itu bersifat hadis. “Mu’ammar meyakini bahwa al-Quran bukan hasil perbuatan Allah, dan bukan sifat Tuhan, akan tetapi suatu kejadian yang hadir secara alamiah dan natural.

Baca juga: