Dasar-dasar strategi belajar mengajar


  1. Dasar-dasar strategi belajar mengajar

Secara harfiah, kata strategi dapat diartikan sebagai seni yakni siasat atau rencana. Dalam perspektif pisikologi kata strategi yang berasal dari bahasa yunani berarti rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. Jadi strategi mengajar sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pengjaran tertentu. Strategi mengjar tidak terlepas dari metode mengajar, karena merupakan kiat praktis yang dipakai guru untuk mengjarkan materi pelajaran tertentu dengan metode mengajar tertentu pula, seperti metode ceramah.

Diantara strategi mengajar itu terdapat sebuah strategi belajar mengajar yang berdasarkan strategi yang kognitif yang relatif masih aktual. Strategi ini bernama Strategy Program For Effektive Learning/Teaching (SPELT). Tujuan starategi SPELT ini adalah :

  1. Penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah
  2. Penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efisien dan mendekati belajar
  3. Penuntut ilmu yang lebih sadar akan kemampuan mengendalikan proses berpikirnya sendiri.

Dalam melaksanakan strategi SPELT ada tiga macam strategi belajar mengajar.

  1. Direct strategy instruction (Pengajaran dengan strategi langsung)
  2. Teaching for transfer ( mengajar untuk menstransfer strategi)
  3. Generating elaborative strategies (pembangkitan strategi belajar siswa yang luas dan terperinci).
  1. Dasar-Dasar Perumusan Tujuan dan Evaluasi belajar Mengajar

Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan program pembelajaran siswa, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa dan berfungsi untuk menentukan siswa dalam kelompoknya atau mengetahui perkembangan siswa.

Tujuan evaluasi antara lain:

  1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil proses belajar dan mengajar yang melibartkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan belajar siswanya itu.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya. Dengan demikian, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai alat penetap apakah siswa tersebut termasuk kategori cepat, sedang, atau lambat dalam arti mutu kemampuan belajarnya.
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Hal ini berarti dengan evaluasi, guru akan dapat mengetahui gambaran tingkat usaha siswa. Hasil yang baik pada urnumnya menunjukkan tingkat usaha yang efisien, sedangkan hasil yang buruk adalah cermin usaha yang tidak efisien.
  4. Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemampuan kecerdasan yang dimilikinya) untuk keperluan belajar. Jadi, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebegai gambaran realisasi pemanfaatan kecerdasan siswa.