Mengapa Muncul Banyak Calon?


Mengapa Muncul Banyak Calon

Mengapa Muncul Banyak Calon

Mengapa Muncul Banyak Calon
Mengapa Muncul Banyak Calon

Salah satu yang menarik untuk disorot ialah fakta bahwa dalam pilpres 2004 dan banyak pilkada, muncul lebih dari satu tokoh NU sebagai calon. Dalam pilpres 2004, ada Hasyim Muzadi, Hamzah Haz dan Salahuddin Wahid. Dalam pilkada Bojonegoro, karena calon dari NU banyak, maka yang menang adalah tokoh non-NU. Dalam pilkada Pasuruan, karena ada dua tokoh PKB (baca NU) yang maju, maka yang menang adalah calon PDIP.

Dalam pilkada Jatim saat ini, ada 4 calon, ada 3 tokoh struktural NU dan satu warga NU yang dicalonkan PKB. Apakah kekalahan demi kekalahan itu tidak bisa membuat para tokoh NU berpikir untuk bersatu supaya bisa menang? Tampaknya memang para tokoh NU tidak mampu belajar dari pengalaman pahit itu. Mengapa demikian?

NU didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, KHA Wahab Hasbullah dan sejumlah kyai lain. Dalam awal pengembangannya, NU mengandalkan jaringan pesantren yang kebetulan saat itu sebagian besar pimpinannya adalah para bekas santri Tebuireng. Jadi sebetulnya pada awalnya NU mirip federasi dari pesantren. Kita bisa paham bahwa pesantren itu sebenarnya otonom. Pada saat Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari masih hidup, semua pihak masih mendengarkan fatwa dan tausyiah beliau. Umat Islam Indonesia secara politik bisa bersatu, juga atas pengaruh beliau.

Setelah KH Hasyim Asy’ari wafat, pengaruh Rais Aam KH Wahab Hasbullah juga masih besar dan demikian juga KH Bisri Syansuri. Perlahan pengaruh Rais Aam menurun hingga terjadi perubahan saat KH Ilyas Ruchyat menjadi Rais Aam dengan Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Pada saat mendirikan PKB, Gus Dur (GD) memaksakan kehendaknya dan Rais Aam serta tokoh NU lain tidak berdaya. Tokoh-tokoh NU yang ada di partai lain tidak diajak bergabung sehingga mulailah terjadi perbedaan kepentingan yang tajam diantara para tokoh NU dari berbagai partai.

Menjelang 2004, KH Hasyim Muzadi mulai terlihat gelagatnya akan menjadi cawapres dari Megawati. GD dengan dalih memperjuangkan hak politik tetap ngotot untuk maju sebagai capres PKB. Mengantisipasi potensi masalah itu, pada awal Desember 2003, saya sowan kepada Rais Aam dan meminta beliau untuk mencegah terpecahnya suara NU dalam pilpres, dengan memanggil kedua tokoh itu secara sendiri-sendiri. Rais Aam harus menegaskan bahwa dalam pilpres 2004 seharusnya hanya ada satu calon dari NU.

Tetapi Rais Aam menolak dengan alasan tidak mau terlibat dalam politik praktis. Maka akhirnya dalam pilpres 2004 muncullah dua tokoh PBNU sebagai cawapres. Sejak itulah NU terbawa dalam pilpres dan selanjutnya dalam pilkada sampai sekarang. Dan sejak saat itu juga muncul banyak calon dari NU yang lalu ditiru oleh para elite daerah. Walaupun saya menjadi cawapres tidak atas kehendak saya dan juga tidak mengejar, melihat terpecahnya NU sekarang didalam banyak pilkada, sedikit banyak saya merasa ikut bersalah.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/