Dia berkata, “Pemimpin harus memenuhi 3 fungsi

Dia berkata, “Pemimpin harus memenuhi 3 fungsi

Dia berkata, “Pemimpin harus memenuhi 3 fungsi

1. Menyediakan petunjuk yang mensejahterakan,
2. Menyediakan sebuah organisasi sosial di mana rakyat merasa relatif aman, dan
3. Menyediakan mereka satu set keyakinan.”

Dengan 3 kriteria di atas dia meneliti sejarah dan menganalisanya: Hitler, Pasteur, Caesar, Musa, Confucius dan banyak lagi dan akhirnya menyimpulkan:

“Orang-orang seperti Pasteur dan Salk adalah pemimpin pada pengertian pertama. Orang-orang seperti Gandhi dan Confucius pada satu sisi serta Alexander, Caesar dan Hitler pada sisi lain adalah pemimpin pada pengertian yang kedua dan mungkin yang ketiga. Yesus dan Budha hanya masuk pada kategori ketiga saja. Boleh jadi pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, seorang yang menggabungkan ketiga fungsi tersebut, sedangkan untuk tingkatan yang lebih rendah adalah Musa.”

Berdasarkan standar obyektif yang dibuat Profesor Universitas Chicago, yang saya yakin adalah seorang Yahudi, Yesus dan Budha tidak termasuk dalam gambaran “Pemimpin-pemimpin besar umat manusia”, tetapi dengan sebuah kebetulah yang aneh, grup Musa dan Muhammad bersama-sama menambah bobot lebih jauh terhadap argumen bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: Ulangan 18: 18 Like unto Thee -Seperti Musa!

Yang terhormat Pendeta James L. Dow dalam Collins Dictionary of the Bible memberi bukti lebih jauh, bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: “Sebagai negarawan dan pemberi hukum, Musa adalah pencipta orang-orang Yahudi. Dia menemukan percampuran yang tidak tepat dari bangsa Semit, tidak ada satu pun dari … “Satu-satunya orang dalam sejarah yang dapat dibandingkan kepadanya adalah Muhammad.” (Pendeta James L. Dow)

Sebagai kesimpulan, saya akhiri dengan sebuah kutipan dari seorang pendeta Kristen, komentator Injil, yang kemudian diikuti perkataan Tuhannya:

“Kriteria utama dari nabi yang benar adalah karakter moral pengajarannya.” (Prof. Dummelow )

“Dari buahnya kita akan mengetahui mereka.” (Yesus Kristus)
Marilah Kita Bermusyawarah Bersama-sama

“Katakanlah, ‘Hai Ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang Iain sebagai sesembahan selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (QS. Ali ‘Imran:64)

“Ahli kitab” adalah sebutan penghormatan yang diberikan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Di sini umat Islam diperintahkan untuk mengajak -“Hai Ahli kitab!”- Hai orang-orang yang berilmu! Hai orang-orang yang menyatakan sebagai penerima wahyu, kitab suci; Marilah bermusyawarah bersama-sama mencapai konsep yang sama – “bahwa kita beribadah tidak kepada yang lain kecuali Allah, karena tidak ada selain Allah yang layak untuk disembah, bukan karena” …Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan Bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.” (Injil – Keluaran 20:5) Tetapi karena dia Tuhan dan pemberi harapan kita, penyusun dan pendukung kita, patut untuk semua pujian, doa dan ketaatan.

Secara abstrak orang-orang Yahudi dan Kristen akan setuju terhadap ketiga hal di dalam ayat Al Qur’an itu. Dalam prakteknya mereka gagal. Terlepas dari penyelewengan ajaran dari kesatuan atas satu Tuhan yang benar (Allah Subha-nahu wa Ta’ala) ada pertanyaan tentang kependetaan suci, (hal ini juga diturunkan di antara kaum Yahudi), seperti jika seorang manusia belaka –Cohen, atau Paus, atau Pendeta, atau Brahma– dapat menyatakan keunggulan terpisah dari pengetahuan dan kemurnian hidupnya, atau dapat berdiri di antara manusia dan Tuhan dalam beberapa pengertian khusus. Islam tidak mengenal kependetaan.

Keyakinan Islam diberikan kepada kita di sini dalam sebuah bentuk singkat:

“Katakanlah (hai orang orang mu’min), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.” (QS. Al-Baqarah: 136).

Posisi umat Islam jelas. Seorang Muslim tidak menyatakan mempunyai sebuah agama khusus untuk dirinya sendiri. Islam bukanlah agama suatu golongan atau etnis. Dalam pandangannya semua agama adalah satu, karena kebenaran adalah satu: Islam adalah agama yang sama dengan agama yang telah disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu. (QS. Asy-Syuura: 13). Semua kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran. Intinya adalah kesadaran akan kehendak dan rencana Allah serta ikhlas dalam ketaatan atas rencana itu. Jika seseorang menginginkan sebuah agama selain itu, dia menyalahi kodratnya, dan menyalahi keinginan dan rencana Allah. Seperti tidak seorang pun dapat mengharap petunjuk, padahal ia dengan pertimbangan mendalam telah meninggalkan petunjuk.

Sumber : https://forbeslux.co.id/