Fakta berkenaan Arswendo Atmowiloto Penulis Keluarga Cemara

Kamu menyadari sinetron Keluarga Cemara? Itu adalah sebuah drama televisi yang sempat tayang pada jaman 1990-an sampai awal 2000-an. Tahun 2018 lalu, Keluarga Cemara kelanjutannya diangkat ke layar lebar yang diperankan oleh Nirina Zubir sebagai Emak dan Ringgo Agus Rahman sebagai Abah. Namun, tahukah kamu siapa yang sebabkan cerita Keluarga Cemara? Ialah sastrawan Arswendo Atmowiloto yang menulis lewat buku yang pertama kali diterbitkan pada 1981 itu.

Arswendo Atmowiloto lahir di Surakarta pada 26 November 1948. Nama aslinya adalah Sarwendo dan ia menggantinya dengan Arswendo sebagai nama denpan dan memberikan nama sang ayah Atmowiloto sebagai nama belakang. Arswendo sempat kuliah di fakultas bahasa dan sastra IKIP Solo tapi tidak sampai selesai. Lalu, pada 1979 ia pergi ke Amerika Serikat untuk ikuti International Writing Program di The University of Iowa.

1. Penulis Indonesia paling produktif
Karier menulis Arswendo Atmowiloto dimulai pada jaman 1970-an saat cerpennya berjudul “Sleko” dimuat di majalah mingguan Bahari pada 1971. Berselang setahun, ia diangkat jadi pemimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo. Ia kemudian menulis cerita-cerita pendek yang diberi judul Keluarga Cemara selagi ia jadi pemimpin redaksi majalah Hai. Buku pertama Keluarga Cemara yang berisi 15 cerpen berkenaan keluarga Abah dan Emak dirilis pada 1981.

Selama hidupnya, Arswendo telah menerbitkan 50 judul karya yang kadang kala memakai pseudonim Said Saat dan B.M.D. Harahap. Karya-karyanya yang lain juga Senopati Pamungkas (1986), Kau Memanggilku Malaikat (2008), Projo & Brojo (2009), dan juga Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (2010). Pada 1990, dalam satu edisinya, Tempo menyebut Arswendo sebagai “penulis Indonesia yang paling produktif”. Selain majalah Hai dan surat kabar Kompas, ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor yang pada 1990 memetik kontroversi.

2. Kontroversi dengan Tabloid Monitor
Kontroversi bermula selagi tabloid Monitor edisi 15 Oktober 1990 memampangkan hasil survei berjudul “50 Tokoh yang Dikagumi Pembaca” pada salah satu halamannya. Semuanya terlihat biasa-biasa saja karena tokoh-tokoh yang ditampilkan sampai angka 10 adalah tokoh yang ada pada jaman tersebut. Peringkat pertama adalah Presiden Soeharto yang dilanjutkan oleh B.J. Habibie, Ir. Sukarno, Iwan Fals, sampai pada peringkat 10 ada Arswendo Atmowiloto.

Yang kemudian menggemparkan adalah pada peringkat 11 ada nama Nabi Muhammad. Dikutip dari Tirto.id, dari 33.963 lembar total kartu pos hasil survei, cuma 616 kartu pos saja yang memilih Rasulullah sebagai orang yang paling dikagumi oleh pembaca Monitor yang tentu saja rakyat Indonesia sendiri. Protes pun bermunculan yang menyasar ke Arswendo sebagai pemimpin redaksi Monitor pada selagi itu. Ia dianggap melecehkan agama dan nabi umat Islam karena survei yang dibuat oleh tabloid tersebut. Akibatnya, Arswendo divonis penjara 5 th. dan Menteri Penerangan pada selagi itu mencabut izin terbit tabloid Monitor.

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

3. Tutup usia dan selalu terbitkan buku
Arswendo Atmowiloto meninggal pada usia 70 th. di hari Jumat, 19 Juli 2019 lalu. Pada masa-masa terakhir, ia masih selalu menulis dan selesaikan novel berjudul Barabas Diuji Segala Segi. Novel yang terbit pada Agustus 2019 itu menceritakan berkenaan seorang terpidana mati bernama Barabas yang beroleh kebebasan dan melanjutkan hidup dengan jadi pendoa. Ia lebih-lebih sempat mewawancarai Bunda Maria yang terlampau dikaguminya.

Dikutip dari Kompas.com, putri ketiga Arswendo, Caecilia Tiara mengatakan bahwa Barabas Diuji Segala Segi adalah karya paling akhir sang ayah yang terbit. Ia juga mengatakan bahwa cerita dalam novel sang ayah adalah kisah dalam kitab suci Alkitab.

Baca Juga :