Satu Tahun Bakti RSTKA untuk Indonesia

Satu Tahun Bakti RSTKA untuk Indonesia

Satu Tahun Bakti RSTKA untuk Indonesia

Hari ini bertepatan dengan Hari Pers Nasional, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga

(RSTKA) juga memperingati satu tahun perjalanan baktinya yang dilakukan di pelosok Tanah Air, Sabtu (9/2/2019).

RSTKA sendiri merupakan Kapal Bantuan Medis yang dimiliki oleh para alumni Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai bentuk pengabdian mereka mengarungi samudera menyelamatkan bangsa.

“Kita bersyukur dari yang awalnya kapal ini yang dibuat dengan susah payah akhirnya bisa berlayar untuk berbakti kecukup banyak wilayah yang membutuhkan, disamping itu kami juga bisa ikut membantu dua kejadian bencana, di Palu dan Lombok,” ujar Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K) selaku Ketua Ikatan Alumni FK UNAIR dan Direktur RSTKA.

Selama satu tahun ini, RSTKA telah melakukan dharma baktinya di 22 pulau

, dengan total 1.532 penanganan pasien bedah dan 11 482 penanganan pasien pelayanan kesehatan dasar dan spesialistik.
Baca Juga:

Rektor UNAIR Kembali Loloskan SNMPTN 7 Siswa Berprestasi
Daftar UTBK-SBMPTN, Ini Hal yang Wajib Diketahui

Pelayaran dharma bakti yang dilakukan sejak 25 Oktober 2017 hingga 08 Desember 2018 ini dilakukan di Pulau Bawean, Kangean, Sapeken, Kalimas, Nusa Penida, Alor, Masela, Babar, Sermata, Luang, Lakor, Moa, Leti, Kisar, Wetar, Lirang, Wakatobi, Kangayan, Raas, dan Sapudi. Serta di Palu dan Lombok saat terjadi bencana gempa tahun lalu.

Dr. Pudjo pun mengatakan bahwa dalam kegiatan ini menjadi refleksi segenap tim RSTKA

untuk arah yang lebih baik lagi sehingga kedepannya RSTKA bisa jadi model bakti yang lebih kompleks karena masalah di daerah dinilai tidak sebatas permasalahan kesehatan saja, melainkan juga aspek sosial yang lain yang juga harus bisa diselesaikan misalnya, bagaimana memperbaiki perekonomian, pendidikan dan kualitas hidup masyarakatnya.

“Gak mungkin kita ndandani daerah dengan kesehatannya tok, ya harus dilihat juga pendidikan nya sehingga ada penanganan yang holistik. Jika berbicara Unair sebagai instansi pendidikan dengan mungkin sinergis dengan KKN atau lainnya,” ujarnya.

Salah satu hal yang paling diperhatikan dan menjadi fokus utama RSTKA adalah usulan dari daerah daerah yang sudah didatangi.

“intinya apa perbaikan kedepannya. Kami mengharap bahwa kami bukan satu satunya kapal bakti medis yang beroperasi di wilayah 3T Indonesia. harapannya wilayah-wilayah tersebut untuk mampu memiliki kapal medis sendiri, agar fasilitas kesehatan mudah diakses. Untuk itu kami berencana mengundang stakeholder terkait supaya cita-cita ini dapat terwujud,” terangnya

 

Baca Juga :