Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal

Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal

Ada beberapa Pengaruh konsep diri pada komunikasi interpersonal, diantaranya adalah sebagai berikut.

 

A. Nubuat yang dipenuhi sendiri

Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diridisebut sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri. Bila diri kita berpikir bahwa kita bodoh, maka kita akan menjadi benar-benar bodoh. Bila pribadi kita merasa memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan,maka persoalan apa pun yang kita hadapi pada akhirnya dapat andaatasi. Kita berusaha hidup sesuai dengan label yang kita lekatkan pada diri kita.

Suksesnya komunikasi interpersonal banyak tergantung dari kualitas konsep diri anda : positif atau negatif. Menurut William D. Brooksdan Philip Emmert (1976) ada 4 tanda orang yang memiliki konsepdiri negatif, yaitu :

1). Peka pada kritik
Orang tersebut sangat tidak tahan terhadap kritik yangditerimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Koreksi atau kritikan dipresepsikan sebagai usaha untuk menjatuhkan hargadirinya.

2). Responsif terhadap pujian
Tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian, walaupun mungkin berpura-pura untuk menghindari pujian dan senang terhadap pujian yang diterimanya.

3). Hiperkritis
Selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dansiapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan dan pengakuan pada kelebihan orang lain.

4). Merasa tidak disenangi orang lain
Merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi pada oranglain sebagai musuh, sehingga tidak dapat menghadirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak mempersalahkan dirinya, tetapi mengangap dirinya sebaga korbandan sistem sosial yang tidak beres.

5). Pesimis terhadap kompetisi
Terungkap dari keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

 

Konsep diri yang positif ditandai dengan :

1. Merasa setara atau sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi tidak rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuannya tertentu, latar belakang keluarga, dan sikap orang lain terhadapnya.

2. Menerima pujian tanpa rasa malu, atau berpura-pura rendah hati,dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

3. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan prilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.

4. Mampu memperbaiki dirinya karena sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

5. Menyakini nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi kelompok yang kuat. Tetapi ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan dia salah.

6. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

7. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu lalu, dan apa yang terjadi pada waktu sekarang.

8. Memiliki kenyakinan pada kemampuan mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

9. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain.

10.Cenderung menolak orang lain untuk mendominasi.

11.Sanggup mengaku kepada orang lain, bahwa ia mampu merasakan berbagi dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kecewa yang mendalam, sampai kepuasan yang mendalam pula.

12.Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatanmeliputi pekerjaan, permaianan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu.

13.Peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, terutama pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

B. Membuka diri

Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi, dankomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang dirinya. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi lebih dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru, lebih cenderung menghindari sikap defensif, dan lebih cermat memandang diri kita dan orang lain. Hubungan antara konsep diri dapat dijelaskan dengan Johari Window. Dalam Johari Window diungkapkan tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita.

C. Percaya diri (self confidence)

Keinginan menutup diri, selain karena konsep diri yang negatif timbul dari kurangnya kepercayaan kepada kemampuan sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang percaya diri akan cenderung menghindari situasi komunikasi. Ia takut orang lain akan mengejek atau menyalahkannya. Ketakutan untuk melakukan komunikasi,disebut commication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan.

D. Selektifitas

Konsep diri mempengaruhi prilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa anda bersedia membuka diri, bagaimana kita mempresepsikan pesan tersebut, dan apa yang kitaingat. (Taylor et al, 1977)

Sumber : https://topsitenet.com/article/213044-material-about-building-a-beam-room/