Pelajar SMPN 21 Praktikkan Toleransi

Pelajar SMPN 21 Praktikkan Toleransi

Pelajar SMPN 21 Praktikkan Toleransi

Remaja adalah sekelompok orang yang mencari jati diri. Demikian pula siswa SMP. Dalam proses pencarian jati diri tersebut, peran agama tidak bisa dilepaskan begitu saja. SMPN 21 Surabaya mempunyai cara tersendiri menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pelajar SMPN 21 Praktikkan Toleransi
Memanamkan Karakter Baik Kepada Siswa (Grafis: Rizky Janu/Jawa Pos/

Miniatur kebinekaan itu berada di SMPN 21. Sekolah di kawasan Jambangan tersebut

mempunyai 1.200 siswa dari kelas VII hingga kelas IX. Sebanyak 76 siswa di antaranya beragama Nasrani. Empat siswa beragama Hindu. Selebihnya merupakan pelajar pemeluk agama Islam. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMPN 21 Kun Hayanah Hayati, guru agama Nasrani Paulus Sardikun, dan guru agama Hindu I Wayan Artawa ikut berperan membimbing mereka.

Toleransi di antara mereka terjalin cukup baik. Bukan hanya antarsiswa di internal sekolah, tetapi juga siswa di lintas sekolah. Terutama dengan para siswa di SMPN 22. SMPN 21 dan SMPN 22 memang kerap melakukan kegiatan kolaboratif.

Kepala SMPN 21 Chamim Rosyidi Irsyad menyatakan, sikap toleransi perlu ditumbuhkan sejak dini. Para siswa harus diajarkan saling menghormati dan menghargai. Di sekolahnya toleransi tersebut dijaga agar terjalin kondusif. Misalnya, ketika ada siswa Nasrani yang sedang berjalan membawa Injil, siswa lain tidak mengganggu. Demikian juga sebaliknya. ”Menghormati keyakinan yang berbeda itu sangat asyik,” tuturnya.

Meski begitu, ujar Chamim, dia percaya urusan keyakinan adalah urusan individu masing-masing. Namun, yang harus tumbuh adalah rasa saling menghormati di antara mereka. Bukan hanya antarsiswa seagama, tetapi juga yang berbeda agama. Selama ini, dalam buku-buku pelajaran, toleransi antarumat beragama tersebut sudah diajarkan. ”Tapi, yang tidak kalah penting itu praktiknya,” katanya.

Praktik menumbuhkan sikap toleransi tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara.

Salah satunya, melalui kegiatan kolaboratif antarsiswa. Bakti sosial ke panti asuhan, misalnya. Chamim melibatkan siswa untuk kegiatan bakti sosial. Empati para siswa ditumbuhkan. Mereka diajak mencari sendiri panti asuhan yang akan didatangi.

Para siswa muslim bisa mencari panti asuhan yang berlatar belakang nonmuslim. Demikian juga sebaliknya. Para siswa yang nonmuslim bisa mencari panti asuhan yang berlatar belakang muslim. Kegiatan itu pun sudah berjalan dengan baik. ”Supaya mengenal, toleransi harus dipraktikkan,” ucapnya. Harapannya satu. Para siswa diajak saling memahami bahwa pada dasarnya semua manusia adalah saling membutuhkan. ”Perdamaian pun bisa terjaga,” jelasnya.

Urusan Kesiswaan SMPN 21 Sapta Meiningsih menyebutkan, pembinaan perilaku para siswa juga dimulai ketika pagi. Bagi siswa muslim, ada salat Duha. Kegiatan itu dilakukan bergantian antara siswa laki-laki dan perempuan. Jika siswa laki-laki sedang salat Duha, siswa perempuan melaksanakan kegiatan literasi di kelas.

Para siswa, terutama yang muslim, juga diajak berlatih kultum singkat. Yakni,

dengan memaknai dan memahami surat-surat dalam Alquran. Kultum tersebut disampaikan para siswa kepada siswa lain dengan bimbingan guru agama. ”Itu juga melatih percaya diri, bisa belajar jadi ustad,” ungkapnya.

Bukan hanya siswa muslim, siswa nonmuslim juga melakukan kegiatan keagamaan di waktu yang sama. Para siswa Nasrani dan Hindu melaksanakan kajian keagamaannya masing-masing di ruang yang berbeda. Ada doa bersama di aula bagi siswa Nasrani. Demikian juga siswa yang beragama Hindu. Ada bimbingan khusus dari guru agama Hindu di sekolah. ”Anak-anak remaja sekarang, apalagi dunia modern, basis agama harus kuat,” tuturnya.

 

 

Sumber :

https://www.storeboard.com/blogs/education/material-about-building-a-beam-room/965003