Perlunya Sejarah Lisan

Perlunya Sejarah Lisan

Perlunya Sejarah Lisan

Pada dasarnya sejarah lisan dapat digunakan

Pula untuk melestarikan sejarah lokal maupun nasional. Sejarah lokal yang dimaksudkan di sini adalah peristiwa yang pernah terjadi pada suatu daerah tertentu, dan kadangkala belum semuanya terungkap dan diketahui oleh masyarakat umum. Misalnya tentang banyaknya kuburan di sekitar jalan pantura Cirebon yang tidak diketahui asal-usulnya, pertempuran di Kedongdong, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Sejarah lisan mempunyai banyak kegunaan.

Guna pertama sejarah lisan dalam kaitannya dengan rekonstruksi sejarah, sejarah lisan dapat berguna sebagai sumber pelengkap di antara sumber-sumber sejarah lainnya. Guna sejarah lisan sebagai sumber pelengkap ini biasanya terjadi manakala sumber tertulis tersedia cukup memadai untuk melakukan suatu rekonstruksi sejarah. Menurut Taufik Abdullah (1982), bila dikerjakan dengan baik, sejarah lisan tidak saja akan mampu mengisi kekurangan dari sumber-sumber tertulis dalam usaha merekonstruksi suatu peristiwa tetapi juga akan mampu memberi suasana (sphere) dari periode yang diteliti. Dengan cara itu, humanisasi studi sejarah dapat dilanjutkan

 

Guna kedua sejarah lisan dalam kaitannya dengan rekonstruksi sejarah

Sejarah lisan dapat menjadi sumber sejarah satu-satunya. Guna ini dapat dimainkan sejarah lisan tidak hanya manakala sumber tertulis kurang memadai tetapi juga manakala sumber tertulis tidak tersedia sama sekali. Sebagai metode tunggal sejarah lisan juga penting jika dilakukan dengan cermat. Sebab masih banyak permasalahan sejarah yang tidak tertangkap oleh dokumen-dokumen. Sejarah lisan jika di lakukan dengan menggunakan teknik wawancara yang benar, keabsahan keterangan-keterangan lisan pun dapat dipertanggungjawabkan.

Namun dalam perkembangannya, sejarah lisan selalu dibayangi oleh perdebatan yang tidak kunjung selesai, yang memperdebatkan masalah keabsahan dan kebenaran faktual yang di analisis dari data-data yang tidak tertulis itu, seperti yang dikatakan Purwanto (2006:70) tidak seperti dokumen tertulis yang dianggap bebas dari subjektivitas sumber-sumber lisan dianggap penuh dengan intervensi dan manipulasi, baik yang dilakukan informan maupun sejarawan di dalam proses pengumpulannya.

Harus diakui bahwa dalam sejarah lokal dapat terjadi hubungan timbal balik antara para pelaku sejarah dengan peristiwanya itu sendiri. Karena dari para pelaku itulah, akan didapatkan informasi yang mungkin belum diungkapkan sebelumnya. Sejarah lokal dapat juga dikategorikan menjadi peristiwa nasional, seperti palagan Ambarawa, perang lima hari di Semarang, pertempuran 10 November di Surabaya dan lain sebagainya. Mungkin kita pernah membaca berbagai peristiwa itu melalui buku-buku sejarah atau informasi yang disampaikan lewat teman atau cerita yang disampaikan lewat kakek dan nenek.

Mencermati keterangan di atas, dapat kemukakan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi secara lokal maupun nasional setidaknya perlu dilestarikan agar masyarakat umum dapat segera mengetahuinya. Langkah pertama yang perlu diambil adalah menelusuri kembali jejak dan bukti peninggalan yang dapat menginformasikan tentang terjadinya peristiwa itu dengan jalan penelitian. Kedua, melakukan wawancara sejarah lisan dengan para pelaku atau pengisah yang pernah mengalami peristiwa itu.

Dengan wawancara, peristiwa yang terjadi dapat digali informasinya sampai ke akar rumput. Di samping itu, wawancara dapat menampilkan dan menyediakan akses layanan yang penting dalam folklore serta dapat mengungkapkan informasi yang hilang. Dalam kaitan itu, dapat dikemukakan bahwa.

Kegunaan wawancara sejarah lisan adalah sebagai berikut.

  1. Dapat mengungkapkan kembali peristiwa yang terjadi.
  2. Dapat melestarikan sejarah lokal masyarakat dan nasional.
  3. Efektif dalam mengungkap data sejarah perseorangan.
  4. Dapat mengembangkan interpretasi si pewawancara.
  5. Metodologi sejarah lisan dapat digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan informasi.
  6. Dapat membawa dimensi lokal baru dan sejarah keluarga.
  7. Sangat penting sebagai sumber untuk program-program di radio dan televisi.
  8. Dapat memperoleh tambahan informasi bagi penelitian dan dapat berperan sebagai mata rantai masa yang lalu dan masa kini.

.

Jika seorang peneliti sedang meneliti tentang pertempuran yang terjadi di suatu daerah yang masuk wilayah Cirebon misalnya, penelitian tidak bisa hanya mengandalkan kepada sumber tertulis saja. Peneliti harus melakukan wawancara kepada para pelaku yang mengalami peristiwa itu secara berurut atau acak tergantung kebutuhan peneliti. Dengan jalan itu, kemungkinan peneliti akan memperoleh informasi yang lengkap sesuai dengan yang diinginkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan wawancara sejarah lisan yang dilakukan itu sangat berguna sekali untuk mengungkapkan informasi seputar peristiwa itu yang belum pernah diketahui oleh masyarakat.  Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/