Secara etimologis kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sansekerta “phala”, yang berarti buah atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti seseorang yang memiliki keberanian dan pengorbanan dalam membela kebenaran bagi bangsa, negara dan agama atau pejuang pemberani.

Pahlawan Nasional adalah penghargaan tertinggi di Indonesia. Gelar anumerta atau gelar yang diberikan kepada orang yang meninggal diberikan oleh Pemerintah Indonesia sebagai tindakan nyata yang sangat berjasa dan patut dicontoh bagi masyarakat.

Dari keputusan presiden, ada 159 tokoh pahlawan Indonesia dan 12 di antaranya adalah pahlawan nasional perempuan, antara lain:

Nama – nama Pahlawan Wanita Diantaranya :

1. Cut Nyak Dhien – Aceh

Cut Nyak Dhien adalah salah satu pahlawan nasional wanita Indonesia yang lahir pada hari Selasa, 0-1-1848 di Lampadang, Aceh.

Cut Nyak Dhien berasal dari keluarga bangsawan religius yang merupakan keturunan langsung dari Sultan Aceh, yaitu Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim.

Pada usia 12 tahun, pada tahun 1862 ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra Lamnga XIII uleebalang dan mereka memiliki satu putra.

Masa Perjuangan melawan Belanda

Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh dan mulai menembakkan meriam ke daratan Aceh. Pada 8 April 1873, Belanda mengambil kendali Masjid Agung Baiturrahman dan membakarnya dan wilayah VI Mukim ditempati oleh Belanda yang akhirnya membuat suami mereka, Teuku Ibrahim berjuang untuk merebut wilayah VI Mukim.

Namun sayangnya Teuku Ibrahim meninggal dalam perang di Gle Tarum, 29 Juni 1878, yang membuat Cut Nyak Dhien marah dan bersumpah untuk menghancurkan Belanda dan melanjutkan perjuangan suaminya untuk memimpin perang. Setelah Cut Nyak Dhien menjadi janda, Teuku Umar adalah salah satu pejuang Aceh yang meminta tangannya untuk menjadi istri dan pasangannya dalam perjuangan karena dia sangat terkesan dengan antusiasme Cut Nyak Dhien, mereka menikah pada tahun 1880 dan memiliki anak bernama Cut Gambang .

Bersama dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien membangun kembali kekuatan dan meningkatkan moral dalam semangat perjuangan Aceh melawan Belanda di sejumlah tempat, mereka berdua adalah suami-istri yang berbahaya bagi pemerintahan Belanda di Aceh.

Namun nasib mengatakan berbeda, pada 11 Februari 1899 Teuku Umar ditemukan tewas dalam pertempuran dan membuat pasukan Cut Nyak Dhien melemah karena tekanan terus menerus dari Belanda. Selain itu, kondisi fisik dan kesehatan Cut Nyak Dhien terus menurun hingga akhirnya Belanda berhasil menangkapnya di Beutong Le Sageu. Untuk menghindari pengaruh Cut Nyak Dhien di Aceh, Belanda mengasingkannya ke Sumedang.

Akhir Hidup

Cut Nyak Dhien, yang berusia lanjut dan memiliki gangguan penglihatan, berhasil menarik perhatian para tahanan dan bupati Suriaatmaja di pengasingannya, beberapa ulama yang ditahan dengan Cut Nyak Dhien menyadari bahwa ia adalah seorang ahli Muslim dalam ilmu-ilmu Islam, jadi dia dijuluki “Bunda Cinta”

Aktivitas Cut Nyak Dhien memiliki pengaruh besar di Sumedang, ia mengajar Islam dan menjaga identitasnya sebagai putri sultan dari Aceh. Pada 6 November 1908, Ms. Perbu meninggal. Cut Nyak Dhien diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No.106 tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

2. Cut Nyak Meutia – Aceh

itu adalah pahlawan nasional besar dari Aceh yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870. Dia dikenal sebagai wanita yang memiliki semangat juang yang tinggi dan tekad kuat untuk mengusir penjajah.

Periode Perjuangan

Cut Nyak Meutia melawan Belanda dengan suaminya, yaitu Teuku Muhammad atau lebih dikenal sebagai Teuku Tjik Tunong. Mereka adalah suami dan istri serta mitra perjuangan yang solid melawan Belanda. Hingga akhirnya pada Maret 1905, Teuku Tjik Tunong ditangkap oleh Belanda dan dijatuhi hukuman mati di pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia meninggalkan pesan kepada temannya Pang Nagroe untuk menikahi istrinya dan merawat anaknya.

Sesuai pesan almarhum suaminya, Cut Nyak Meutia menikah dengan Pang Nagroe dan bergabung dengan kepemimpinan Teuku Muda Gantoe untuk melawan Belanda. Namun sayangnya, pada 26 September 1910 Pang Nagroe tewas dalam pertempuran melawan Korps Marechause di Paya Cicem. Cut Nyak Meutia bertahan dengan wanita lain dan melarikan diri ke hutan.

Akhir Hidup

Setelah kematian suami keduanya, Cut Nyak Meutia terus berperang bersama Belanda bersama para pengikutnya. Mereka mencoba menyerang dan merebut pos-pos kolonial di sepanjang jalan menuju Gayo melalui hutan belantara. Namun, selama pertempuran di Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910, sebuah peluru ditembak dan dinyatakan mati. Untuk semua layanannya, pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 107 tahun 1964.

Pahlawan Nasional Wanita

3. Raden Ajeng Kartini – Jepara

raden ajeng kartini

Raden Ajeng Kartini adalah pejuang wanita dari Jepara yang sangat terkenal di Indonesia. Dia dikenal sebagai wanita yang berjuang untuk emansipasi wanita. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Ulang tahunnya dirayakan sebagai Hari Kartini, untuk menghormati semua jasanya bagi rakyat Indonesia.

Kartini adalah keturunan keluarga bangsawan, ayahnya adalah R.M. Sosroningrat yang menjabat sebagai bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putra seorang kiai di Telukawur, Kota Jepara. Kartini dididik sampai dia berusia 12 tahun di ELS (Europese Lagere School). Setelah usia 12, Kartini harus tinggal di rumah karena dapat ditutup.

Periode Perjuangan

Kartini merasakan banyak diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, di mana dia dan perempuan lain tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan ada beberapa perempuan yang tidak diizinkan mengikuti pendidikan sama sekali. Selama pengasingannya, Kartini suka menulis surat kepada teman-teman koresponden dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon. Kartini tertarik pada kemajuan dan pola pikir wanita Eropa setelah membaca banyak buku, surat kabar, dan majalah Eropa. Keinginan Kartini muncul untuk mempromosikan wanita pribumi seperti wanita Eropa, karena pada saat itu wanita pribumi dalam status sosial yang rendah.

Akhir Hidup

Pada 12 November 1903, tepatnya pada usia 24 ia menikah oleh orang tuanya dengan bupati Rembang, yaitu R. Adip Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan memiliki seorang putra bernama Soesalit Djojodhiningrat. Kartini meninggal 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Kematian Kartini tidak mengakhiri perjuangannya sebagai pelopor emansipasi wanita, salah satu tema di Belanda adalah bahwa Abendanon mengumpulkan semua surat yang dikirim Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon memposting seluruh surat itu dan berjudul Door Duisternis tot Licht yang berarti “Dari Kegelapan ke Cahaya”, diterbitkan pada 1911 dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi terjemahan buku ini dari Abendon dengan judul “After Darkness Revealed Light: Fruit of Mind” dengan bahaya bahasa Melayu. Beberapa terjemahan dalam bahasa lain juga mulai diterbitkan, sehingga tidak ada yang akan melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini selama hidupnya. Atas perjuangannya, pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada R.A. Karini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964 pada 2 Mei 1964.

4. Raden Dewi Sartika – Jawa Barat

Dewi sartika Raden Dewi Sartika, adalah salah satu tokoh perintis pendidikan bagi wanita. Ia dilahirkan di Bandung, 4 Desember 1884 dari Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas.

Periode Perjuangan

Dia memulai perjuangannya sejak usia 18 tahun dengan mengajar membaca, menulis, memasak, dan menjahit wanita di kotanya. Pada 16 Juli 1904, Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Wife atau Sakola Wanita. Pada tahun 1904, istri Sakola mengubah namanya menjadi Sakola Keutamaan Istri dan pada tahun 1929, Sakola mengubah namanya lagi menjadi Sakola Raden Dewi.

Selain tersebar di kota kabupaten Pasundan, Raden Dewi School juga menyebar ke luar pulau Jawa. Dewi Sartika berusaha mendidik anak-anak perempuan agar mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, cerdas, fleksibel, dan terampil serta dapat berdiri sendiri. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, Dewi Sartika berusaha mencari sumbangan dana dan menambahkan banyak orang yang mendukung perjuangannya, terutama suaminya, Raden Kanduruan, Agah Suriawinata.

Nama Dewi Kartika dikenal luas oleh masyarakat sebagai pendidik, terutama di kalangan wanita. Pada 16 Januari 1939, pemerintah Hindia Belanda memberikan bintang layanan kepada Dewi Sartika untuk layanannya dalam memajukan pendidikan perempuan.

Akhir Hidup

Dewi Sartika menghembuskan nafas terakhirnya di Tasikmalaya, 11 September 1947. Karena perjuangannya untuk mencerdaskan bangsa, ia diberi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, pada tanggal 1 Desember 1966.

5. Martha Christina Tiahahu – Maluku

Martha Christina Martha Christina Tiahalu adalah salah satu pejuang perempuan yang lahir di Maluku, 4 Januari 1800. Christina adalah putri Kapitan Paulus Tiahahu, yang juga berpartisipasi dalam perang Patimura melawan Belanda pada tahun 1817.

Periode Perjuangan

Sejak kecil, Martha sering mengikuti ayahnya dalam pertemuan pembentukan benteng, ketika dia berusia 17 tahun, Martha sudah berani melawan para penjajah.

Martha Christina juga berperan sebagai pemimpin pejuang wanita untuk membantu pejuang pria dalam misi teritorial Belanda di desa Ouw, Pulau Ulath Saparua. Richemont, seorang pemimpin dalam peran Belanda dibunuh oleh pasukan Martha Cristina. Dengan kematian pemimpin Belanda, para penjajah menjadi semakin marah dan terus menyerang orang-orang.

6. Maria Walanda Maramis – Minahasa

Maria Maramis Maria Walanda Maramis adalah gerakan perempuan yang lahir di Kema, Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872. Sejak usia enam tahun, Maria Maramis telah menjadi yatim piatu dan dirawat oleh pamannya. Pendidikan Maria hanya dibawa ke sekolah dasar, karena gadis-gadis di Minahasa pada waktu itu tidak diizinkan melanjutkan pendidikan tinggi.

Periode Perjuangan

Maria mampu memperluas pengetahuannya karena dia suka bergaul dengan orang-orang berpendidikan, seperti Pendeta Ten Hove. Maria Small bertekad untuk memajukan perempuan Minahasa dengan memperoleh pendidikan yang memadai, sehingga nantinya dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak dengan baik.

Pada tahun 1890, Maria Maramis menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda yang adalah seorang guru. Dengan bantuan suaminya dan murid-murid lainnya, pada Juli 1917 Maria Walanda Maramis mendirikan sebuah organisasi bernama Cinta Ibu untuk Masa Kecilnya (PIKAT), yang mengajarkan cara mengelola rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan pekerjaan tangan.

PIKAT menerima tanggapan yang baik dari masyarakat, dalam waktu singkat cabang-cabang PIKAT berdiri di beberapa tempat dan sumbangan mulai mengalir. Maria Maramis menemukan rasa kebangsaannya dengan murid-muridnya, dengan membiasakan mereka dengan pakaian sekolah di daerah tersebut.

Akhir Hidup

Maria Walanda Maramis meninggal pada 22 April 1924 di Maumbi. Ia menerima gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena perjuangannya untuk mendidik generasi bangsa sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 012 / K / 1969 tanggal 20 Mei 1969.

7. Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan – Yogyakarta

Nyai Ahmad Dahlan Siti Walidah atau yang biasa dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1872 adalah keturunan keluarga ulama muslim dan pejabat resmi Istana, Kyai Haji Fadhil. Sejak kecil, Siti Walidah tidak mendapatkan pendidikan umum, kecuali pendidikan agama yang ia dapatkan dari orang tuanya.

Siti Walidah menikahi sepupunya, yaitu Kiyai Haji Ahmad Dahlan dan dikaruniai enam anak. Setelah menikah, dia dikenal sebagai Nyi Ahmad Dahlan. Kiyai Haji Ahmad Dahlan adalah seorang pemimpin agama dengan pemikiran revolusioner, dan sering mendapat kritik dan oposisi karena diskusi yang dia lakukan.

Periode Perjuangan

Nyai Ahmad Dahlan memiliki pandangan yang luas tentang sains, karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh Muhamadiyah dan pemimpin negara lainnya serta rekan senegaranya suaminya.

Pada 1914, Nyai Ahmad In memelopori kelompok pembacaan perempuan Sopo Tresno. Sopo Tresno menjadi organisasi perempuan Islam. Akhirnya nama Aisha dipilih, sebagai organisasi Islam untuk wanita tepat pada malam Isra Mi’raj, 22 April 1917. Lima tahun kemudian, Aisha secara resmi bagian dari Muhammadiyah.

Akhir Hidup

Pada 31 Mei 1946, Nyai Ahmad Dahlan meninggal. Untuk menghormati semua jasanya dalam menyebarkan Islam dan mendidik perempuan, pemerintah memberi Nyai Ahmad Dahlan gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 042 / TK / 1971.

8. Nyi Ageng Serang – Yogyakarta

Nyi Ageng Serang Pemilik nama lengkap Raden Ageng Kustiah Retno Edi adalah ahli strategi perang yang lahir di Serang 1752. Terlepas dari sifatnya sebagai seorang wanita, ia juga mampu sebagai panglima perang. Ayahnya adalah Pangeran Natapraja, Bupati Serang Yogyakarta, juga dikenal sebagai Panembahan Serang. Sejak kecil, Nyi Ageng Serang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi untuk mengajar Belanda dari bumi.

Periode Perjuangan

Pada abad ke-19, Belanda mulai menyerang Jawa dan mulai menurunkan martabat raja-raja Jawa dan membuat kondisi rakyat semakin menyedihkan karena ada banyak perampasan tanah rakyat yang menyebabkan perang Diponegoro (1825-1830) yang juga menjadikan Nyi Ageng Serang (73 tahun) sebagai pinisepuh dalam perang.

Zaman tidak menghalangi Nyi Ageng dalam perang, ia bahkan mengarahkan pasukannya ketika perang gerilya di desa Beku, kabupaten Kulon Progo. Strategi yang diadopsi oleh Nyi Ageng dalam perang, membuat Pangeran Diponegoro mengangkatnya sebagai penasihat, setara dengan Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Joyokusumo dalam strategi perang.

Akhir Hidup

Karena melemah secara fisik, akhirnya Nyi Ageng mengundurkan diri dari medan perang dan menetap di rumah keluarga Nataprajan di Yogyakarta hingga ia meninggal pada tahun 1828 pada usia 76 karena sakit. Untuk jasanya membela negara, Nyi Ageng Serang diberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Republik Indonesia No. 084 / TK / 1974, 13 Desember 1974.

9. Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta

Rasuna Said Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah pejuang wanita yang berjuang untuk memperjuangkan persamaan hak antara pria dan wanita. Sejak kecil, Rasuna Said telah menerima pendidikan Islam dalam pesan tersebut

10.jj Fatimah Siti Hartinah Soeharto – Jawa Tengah

Siti HartinahHj. RA Fatimah Siti Hartinah atau lebih dikenal dengan nama Tien Soeharto adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Purnawirawan Soeharto. Tien lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923 dari pasangan KPH Soemoharjomo dan RA Hatmanti Hatmohoedjo.

11. Hj. Fatmawati Soekarno – Bengkulu

Fatmawati Soekarno Fatmawati adalah seorang wanita asli yang lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah, yang orang tuanya adalah keturunan Puti Indrapura (keluarga kerajaan kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatra Barat). Ayah Fatmawati adalah salah satu pemimpin Muhammadiyah di Bengkulu.

Ketika berusia 20 tahun, Fatmawati menikah dengan Presiden Indonesia Pertama Soekarno pada 1 Juni 1943. Yang membuat Fatmawati secara otomatis menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari 1945-1967. Fatmawati adalah istri ketiga Soekarno, yang memiliki lima anak, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan yang terakhir adalah Guruh Soekarnoputra.

12. Opu Daeng Risaju – Sulawesi Selatan

Opu Daeng RisadjuOpu Daen Risaju atau yang, ketika dikenal sebagai Famajjah, adalah Pahlawan Nasional yang lahir di Palopo pada tahun 1880 dari Opu Daeng Mawellu dan Muhammad Abdullah ke Barengseng. Nama Opu Daen Risaju adalah simbol bangsawan kerajaan Luwu, gelar yang diperoleh setelah menikahi suaminya, H Muhammad Daud.

Sejak kecil, Opu Daeng Risaju tidak pernah berada di sekolah formal seperti sekolah Belanda. Tetapi dia telah belajar banyak tentang ilmu agama dan budaya. Meskipun latit buta huruf, tetapi ia mengerti tentang Alquran, Fiqh, Nahwu Sharaf dan balaghah karena tinggal di lingkungan yang mulia yang menerapkan nilai-nilai moral dan perilaku.

Baca Juga :